AGAM– asakitanews.com– Masjid Raya Tantaman, nagari III Koto Silungkang, Palembayan, Agam, Sumbar bernilai historis yang tidak mudah dilupakan, terutama terkait proses pengangkutan tiang penyangga (Tunggak Macu) masjid. Jadi, tidak selayaknya sirna begitu saja meskipun dikemudian hari dibangun masjid baru. Hal ini disampaikan salah seorang anak nagari, Agus, St. Mantari kepada asakitanews.com di Tantaman, Kamis (27/2/2025)
“Di kabupaten kita, mungkin masjid raya Tantaman satu- satunya masjid yang memiliki penyangga satu Tunggak Macu. Sejarah pengangkutan atau membawa tiangnya hingga berdiri kukuh seperti saat ini, generasi kini dan mendatang perlu mengetahui. Ini sejarah, jangan sampai dilupakan begitu saja,” tegasnya.
Ia katakan, Tunggak Macu berdiameter kurang lebih 1 meter, terbilang kayu besar. Kayu berasal dari Kampuang Barangai, tepatnya di lembah (ngarai) Batu Gantuang.
“Logika manusia biasa, mustahil Tunggak Macu besar, berat dan panjang kurang lebih 8 meteran itu diangkut puluhan orang hingga ke lokasi masjid tanpa ada ‘tenaga tersembunyi’ membantu. Apa lagi akses jalan Batu Gantuang menuju Simpang Tigo (lokasi masjid) puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun silam bukan sebagus saat ini,” katanya.
“Atau proses pengangkutan lebih dulu dibuatkan gelondongan kayu (sejumlah kayu kecil dijadikan bantalan guna memudahkan pendorongan Tunggak Macu- red), dipastikan juga tidak mungkin,” ucapnya.
Pria usia 70 tahunan itu lanjutkan, berdasarkan cerita turun temurun yang ia dengar, Tunggak Macu dibawa menuju area masjid, ibarat memanggul sebatang pohon pisang.
“Ringan alias tidak berasa membawa beban berat. Keanehan tersebut terjadi disebabkan adanya seseorang kakek yang duduk di atas kayu saat digotong masyarakat beramai- ramai. Kakek itu bernama atau biasa dipanggil Inyiak Atin,” ungkapnya.

Mantari tegaskan, keikut sertaan Inyiak Atin membantu proses pengangkutan kayu besar dengan duduk di atas kayu (Tunggak Macu), diakui masyarakat Tantaman.
“Pada umumnya masyarakat Tantaman membenarkan keahlian Inyiak Atin pada proses pengangkutan kayu besar yang dipergunakan untuk tiang penyangga masjid. Dan sekali lagi, Tunggak Macu itu kukuh serta tidak lapuk hingga kini. Coba kita bayangkan, ratusan tahun berlalu tetap berdiri kukuh,” terangnya.
Di sini, kata dia lagi, dapatĀ diambil pembelajaran, dimana jika rumah Tuhan dibangun dibarengi kebersamaan dan niat ikhlas, seberat apapun kayu atau pekerjaan, prosesnya terasa mudah.
“Terpenting sekali, mungkin tidak ada masyarakat Tantaman mampu menjadikan kayu kapasitas besar dan berat menjadi ringan tanpa Inyiak Atin. Hal tersebut menandakan, betapa orang-orang terdahulu memiliki keilmuan tinggi apa lagi ilmunya dipergunakan untuk kebaikan. Dipastikan Tuhan bakal memudahkan,” ingat Mantari seraya ulangi lagi, perjuangan orang-orang tua terdahulu jangan sampai terlupakan generasi saat ini.
Majid Bondo Tantaman
Pria yang memahami karifan lokal sekaligus bergelut di bidang seni budaya Minangkabau itu menambahkan, kebaradaan masjid Raya Tantaman bukan saja terkait pembangunan yang dikerjakan secara gotongroyong. Akan tetapi, penting pula diketahui awal mula masjid didirikan.
“Awal mula masjid Raya Tantaman dibangun bukan di lokasi saat ini. Tetapi di lokasi lain tepatnya di Palo Alahan atau tidak jauh dari rumah Nek Dinar almarhumah. Nama masjid kala itu adalah masjid Bondo. Kenapa masjid Bondo, dipastikan mempunyai arti dan makna, bukan asal disematkan nama begitu saja,” terangnya. (***)